Senin, 19 November 2018

DIARY OF VACATION - The Vacation wasn't over yet 😊

Intro:


          Banyak persiapan yang dilakukan menjelang vacation kita, beli sampul passport kembar, beli bakpia faourite- Kurniasari (buat oleh-oleh), pinjem kamera Yi nya Arum, download aplikasi Map Offline 4 negara, download kamus offline, sampai bikin itinerary perjalanan untuk tiap Negara dan di print out, Yaya sempet pijet dulu, aku nggak ada waktu karena harus kuliah, jarang pijet juga sih…Yaya sudah memberi kabar lewat whatsapp klo dia sudah nggak sabar sama vacation kita, hal itu membuatku makin semangat menyambut pengalaman baru…

Sampul Paspor Kembar 😉

Sore itu setelah pulang kuliah, aku diantar Anggini ke bandara Adi Sucipto, dari sana naik Batik Air menuju Bandara Soekarno Hatta, dalam pesawat sebelahan sama mas-mas dan bos nya, mereka ngebolehin aku duduk dekat jendela, mau dengerin musik tapi fd nggak bisa dicolokin, akhirnya nonton video klip (Secret Love Song nya Little Mix) dan film documenter ikan pari raksasa yang ada di Raja Ampat, sampai CGK terminal 1F langsung ambil shuttle bus ke terminal 2D, di sana aku bertemu dengan Yaya di bagian imigrasi, Yaya yang sempet khawatir dan nggak tenang karena aku datang mepet banget, dia jadi merasa jaman aku di Jakarta dulu, mau jalan-jalan ke Sukabumi sama Yaya, kita udah pesen tiket pp Bogor- Sukabumi, tapi di stasiun Bogor, 1 menit sebelum kereta berangkat Yaya baru dateng, gimana perasaanku coba, pas kereta mau berangkat, petugas bilang “neng nggak naik?” aku jawab “tungguin temen saya dong pak, bentar lagi sampai kok”(sambil pasang ekspresi memelas) dan itu petugas jawab dengan tenangnya “ini kereta neng bukan angkot” hahahahaa, dan aku lihat Yaya lari-lari dari kejauhan ngejar kereta, sesaat setelah kita menginjakkan kaki di lantai kereta, kereta mulai berangkat, itu kalau Yaya telat 10 detik aja kita udah ketinggalan kereta (bener-bener kisah yang tak terlupakan seumur hidup), kembali di bagian imigrasi bandara… akhirnya passport ada coretannya juga, kemarin masih bersih, hehee…

We are so excited 😍
Koper pink Yaya cetar juga ya

Pas tas dicek sama petugas bandara, ternyata nggak boleh bawa air, aku baru tau juga klo bandara international tu nggak boleh bawa air, nggak tau kenapa, padahal udah berat-berat Tupperware yang gede aku isi penuh dari kosan tadi, akhirnya aku dan Yaya minum sebagian dan sisanya berakhir di tempat sampah, anehnya air minum Yaya selalu lolos di bandara manapun, bener-bener mujur hmmm….dalam pesawat menuju Malaysia aku sebelahan sama bapak-bapak yang ternyata warga Negara Malaysia tapi kerja di Indonesia, dia ngira aku sama Yaya ke Malaysia dalam rangka belajar, emang muka kita masih kayak anak kuliahan ya? Hehehe….Sampai Kuala Lumpur (Bandara KLIA) pukul 23.55 (waktu sama kayak WITA), agak bingung karena ternyata untuk menuju imigrasi harus naik semacam monorail dulu, setelah sampai imigrasi antrian panjang tak terkira, padahal sudah dipisah antara Negara Asean dan di luar Asean. Di depan pintu keluar sudah di tunggu Kak Ell dan Kay, kami pun naik grab menuju E- Tiara Apartment Subang Jaya, kebetulan aku duduk depan sebelah supir dan bingung mau ajak ngobrol takut salah ngomong, hehehe…Di apartment ketemu sama suaminya Kak Ell yang wajahnya begitu familiar bagiku, namun belum terpecahkan, siapakah gerangan…

Sesaat sebelum lepas landas

Jalan Jalan di Malaysia 🇲🇾

Pagi itu dibangunin oleh Kay, anak kecil yang bahasa Inggrisnya lebih jago dari aunty-aunty nya ini mengajak kita nonton film2 kartun Malaysia yang bahasanya mirip upin ipin, ada tokoh yang namanya kayak keluarga jeruk (nipis, purut, dll) dan Kay demen banget…setelah sarapan Nasi Lemak dan Pisang Goreng (enak J), aku, Yaya, Kak Ell dan Kay pergi ke Batu Caves naik MRT, Negara Malaysia bersih dan rapi, cara parkir mobil pun beda sama di Indo, bukan parkir miring tapi parkir nya sejajar, plat mobil depan nya huruf 3 digit lanjut angka, ga ada embel2 kapan masa berakhir plat (tulisan kecil-kecil yg di bawah). Di perjalanan ketemu sama anak kecil cowok namanya Rizky, dia dan Kay sepertinya cocok banget maen bareng tapi suatu ketika Rizky marah sama mamanya karena mamanya ngeluarin empeng dan mamanya bilang “Rizky malu soalnya ada cewek ketahuan masih ngempeng” hahaha, bawaannya bikin pengen ketawa terus. Terdapat patung setinggi 42,7 meter dan depannya terdapat semacam tanah lapang (dipaving), banyak burung dara juga di sana. Setelah puas foto-foto kami beli es krim Milo J

Naik MRT dimana Kay bertemu dengan Rizky, haha

Bersama Kay, Yaya dan Kak Ell

Patung setinggi 42,7 meter terlihat sama dengan badan kita

Di belakang itu patung apa ya?

Selanjutnya kita pergi ke pusat kota Kuala Lumpur, ada masjid Jamek Kuala Lumpur, di sinilah aku dan Yaya sadar bahwa suaminya Kak Ell itu ternyata rekan kantorku di Rabobank dulu yang garap proyek temenos bareng orang-orang India, hahaha…misteri akhirnya terpecahkan! Lalu kami pergi ke Dataran Merdeka naik bis free, terdengar lagu Kahitna-Cantik, ternyata terkenal sampai sini juga ya, bermain air dengan Kay dan foto di depan bendera yang besar dan lapangan yang luas (biasa dipakai saat hari kemerdekaan Malaysia), di balik itu ada Kuala Lumpur City Gallery dimana di depannya ada tulisan I Love KL. Kami pun masuk ke galeri tersebut dan yang paling keren itu saat naik ke lantai 2, Di lantai 2, kami beserta tourist lain diajak masuk ke dalam ruangan. Di ruangan gelap tersebut terdapat maket besar Kota Kuala Lumpur. Selama sekitar 2 menit, bangunan-bangunan mini di maket tersebut menyala kerlap-kerlip. Di sebuah layar besar, muncul video presentasi dari seorang pemandu yang menjelaskan tentang wisata di Kuala Lumpur. Keren!
Dataran Merdeka, biasa digunakan saat upacara hari kemerdekaan Malaysia

Bendera di belakang super big loh

Terima kasih KL dan Kak Ell *baca nya sama haha

Maket besar kota Kuala Lumpur, ada di lt 2 Galeri Kuala Lumpur

Kami membeli oleh-oleh di Pasar Seni/ Central Market Kuala Lumpur, setelah itu kami pergi ke Petronas Twin Towers, di sini sholat Magrib pukul 19.30, kami bisa foto di Twin Tower saat langit terang dan di malam hari. Di balik Twin Tower terdapat semacam danau kecil yang tengahnya terdapat air mancur dan bisa menari-nari (Dancing Fountain), konon katanya air mancur yang menari-nari di Grand Indonesia Thamrin itu mengadopsi dari dancing Fountain Twin Towers ini.
Setelah itu kami jalan kaki melewati salah satu jembatan penghubung perkantoran terpanjang di Asia menuju Bukit Bintang, jaraknya lumayan jauh, sekitar 2-3 km dan yang aku kagum, Kay bisa jalan sendiri sepanjang ini, dia memang sosok gadis yang periang, lincah dan mandiri. Bukit Bintang yang bayanganku seperti Bukit Bintang di Bandung, Jogja, maupun Semarang (melihat lampu perkotaan dari atas bukit) ternyata kalau di Malaysia itu seperti deretan pusat perbelanjaan, mall dan tempat nongkrong di Kuala Lumpur. Kami pulang naik bis dan istirahat.

Kay, gadis yg sangat aktif 💃

“Hello Goodbye Hello Goodbye…I say hello…you say goodbye…” sekitar jam 4 pagi terdengar suara jam waker dari HP ku yg notabene adalah lagunya The Beatles Hello Goodbye, akhirnya kita packing dan berangkat ke bandara KLIA jam 5.00 diantar Kak Ell naik grab.

Cokelat Panas dari Kak Ell rasa Hazelnut


Jalan jalan di Thailand 🇹🇭

Di bandara KLIA kita sempet sarapan bubur ayam di Mc D, dengan wajah ngantuk, aku mendorong stroller melewati meja- meja dan nyangkut di kursi salah satu pelanggan, aku dorong terus stroller nya tapi tetep aja nyangkut dan aku terharu ada seorang bule yang lewat dan menyempatkan waktu untuk minggirin kursi itu biar aku bisa lewat lalu aku duduk di meja dan ada segerombolan cowok jepang duduk satu meja dengan ku (seneng aja denger orang jepang ngomong). Pesawat berangkat pukul 8.20 sampai Bangkok jam 9.30, waktu di Malay dan SG sama seperti WITA, sedangkan Bangkok sama seperti WIB, colokan listrik pun Malay sama SG sama-sama kaki tiga, sedangkan Thailand sama kayak Indonesia, kaki dua. kebetulan aku sebelahan sama seorang pria yang notabene sangat sopan, setelah aku tengok dikit passport pas doi ngisi lembar imigrasi, ternyata doi dari Jepang. Tapi sepanjang perjalanan aku tidur, ngantuk bangett….dan terbangun oleh suara pramugari yang minta para penumpang menyanyikan lagu happy birthday untuk seorang anak laki-laki yang sedang berulang tahun.
Sampai di bandara Don Mueang kami langsung nuker uang Baht dan cari peta MRT Thailand, kertas imigrasi Yaya sempat ilang jadi kita ngobrol sama petugas imigrasi Thailand, logatnya lucu…lalu kami menuju hotel Nasa Vegas dekat St Ramkhanghaeng naik bis dengan tariff 30 baht, suasananya di sini panas banget, mirip-mirip lah sama Jakarta. Untuk komunikasi bener-bener murni Bahasa Inggris karena jarang sekali orang bisa bahasa Indonesia. Kita turun di sebuah perempatan dekat halte, dari peta terlihat BTS Mo Chit deket, kita tanyalah sama orang-orang yang lewat, mereka agak bingung karena kita bacanya salah, bukan Mo Chit tapi mohit. Saat itu kami bawa luggage berat banget, liat kiri jalan ada escalator ke arah bawah tanah dan atasnya ada tulisan Chatuchak Park, kita langsung berbelok ke sana, menuruni escalator dan ketemulah di depan st bawah tanah, Tanya petugas arah mana pasar Chatuchak dan dia bingung, akhrinya ada seorang cowok yang iba melihat kita kebingungan, dia menawarkan diri untuk mengantar kita ke pasar Chatuchak, baik banget…dalam hatiku, Bahasa Inggrisnya lancar, ada tahi lalat di leher belakang, sayangnya aku lupa namanya, ada huruf “P” di depannya “P son” atau siapalah gitu namanya, dan dia lucu banget saat sebut nama Yaya :D
Dia mengantar kita dan ngajak ngobrol sepanjang lorong bawah tanah itu, sangat membantu karena kita juga jadi lupa klo bawa luggage berat banget, dia bilang punya tante di Malaysia jadi ngerti dikit-dikit Bahasa Melayu dan hatiku bergetar setelah dia ngomong “sama-sama” arrrkkkhh melting….dia juga cerita pernah maen ke Indonesia tepatnya di kota Tangerang (ngomong Tangerang nya agak aneh tapi lucu), dia ke sana untuk keperluan kerja karena kebetulan dia kerja di perusahaan Ink (tinta atau semacam computer gitu) dan dia juga baru tahu kalau Tangerang itu beda sama Jakarta. Tibalah kita di seberang jalan, memasuki sebuah taman, dia bilang “over there (right) is Chatuchak park and over there (left) is Chatuchak market that only in weekend, my friend had gone to Chatuchak on Wednesday and they were so disappointed because there was not Chatuchak market in weekday”. Aku cerita kalo aku dan Yaya sebenernya pengen ke penginapan dulu naroh barang karena bingung di Chatuchak ada Bag Deposit apa enggak, cuman kita bingung ngomongnya dan cowok itu balas “I recomend for you if you wanna go to your hotel, you can go by MRT to Phetchaburi, transit to Makassan and then go to Ramkhanghaeng”. Kita melewati jalan setapak dan setelah masuk ke Chatuchak aku sama Yaya memutuskan untuk mampir ke tempat makan (soalnya bawaan berat) dan berpisah sama dia :’( kita nunjuk ke salah satu warung makan tenda dan nanya ke dia “is this halal?” dan dia agak kebingungan, ternyata banyak orang Thai yang ga ngerti halal, tapi begitu ditanya “no pork?” mereka langsung ngerti.
Sesaat setelah berpisah aku agak menyesal nggak nanya contact nya karena siapa tahu bisa bantu kalau kita kesasar nanti, huhuhu….aku dan Yaya akhirnya makan mango rice, makanan khas Thailand yang harus dicoba oleh para pelancong, harga nya 100 baht yang isinya ternyata nasi ketan warna putih dikasih susu kental manis atasnya, trus ditaburi semacam biji-bijian, dan disajikan bersama potongan buah mangga dan ada bunga di tengah-tengahnya, dalam hatiku…ini memang orang Thailand suruh kita makan bunga ya, hahaha….*becanda. Aku juga pesen iced tea dan setelah datang…itu es teh ditaruh di cup plastik tinggi gitu seharga 40 baht dan rasa tehnya tu beda banget dan aku suka, oh…begini tho rasa Thai Tea, I love Thai Tea…


Makanan pertama di Thailand, Mango Rice

Setelah itu aku sama Yaya memutuskan untuk gelar tiker di taman Chatuchak taroh semua luggage di sana sambil Yaya pergi ke Chatuchak market beli oleh-oleh, aku nitip kaos untuk adek-adekku dan gantungan kunci. Ada kendala komunikasi lewat HP karena ternyata aku blm top up pulsa dan nggak pesen paketan internet roaming karena itu super duper mahal, sempet curi-curi cari wifi gratis eh ternyata itu personal hotspot hp punyanya orang lewat yg nggak sengaja open. Aku nungguin Yaya sambil leyeh-leyeh di tiker dan jemur baju-baju yang semalam aku cuci dan belum kering (ga bisa dibayangin bentuknya, tiker mendadak jadi jemuran dan itu di pinggir jalan setapak taman yang banyak dilewati orang-orang). Kurang lebih 2 jam-an aku nungguin Yaya belanja, doi beli barang banyak banget buat temen sekantor, adik sama nyokapnya.


Salah satu gantungan kunci di Pasar Chatuchak

Setelah puas berbelanja, aku pergi ke toilet dan masuk ke pasar Chatuchak, ternyata bentuknya mirip kayak pasar Tanah Abang yang di luar ruangan, kayak pasar kaget atau Sunday Morning gitu, berharap bisa ketemu cowok tadi tapi ternyata belum jodohnya…kami pun beranjak dari pasar Chatuchak dan pergi ke hotel lewat MRT bawah tanah yang notabene cepet banget, tariff 32 baht, (sempet masalah pas masuk ke pintu otomatisnya, karena pake koin dan diwaktu, kita lama banget karena bawa luggage dan keburu pintu nutup otomatis), di kereta ga ada pemandangan dan eskalatornya cepet banget (mungkin di desain untuk orang-orang yang sibuk, sangat mendewakan waktu dan butuh perjalanan cepat kali ya), dalam kereta kita sering mendengar operator ngomong “S̄t̄hānī t̀x pị s̄t̄hānī ramkhanghaeng (baca: setani tok pai, setani ramkhanghaeng)” dengan logat nada yang Thailand banget, hehehee…kita juga baru tahu kalai bahasa Thai nya station itu setani”. Tibalah kita di stasiun Phetchaburi, naik lewat escalator dan kita muncul dari dalam bangunan, di depan ada perempatan dan kita bingung mau cegat taksi karena takutnya ga bisa nyegat di pinggir jalan, akhirnya kita nyeberang dan nyegat taxi dari pinggir jalan, dapetlah taxi warna pink bertuliskan taxi meter dan sopirnya begitu ganteng pake kaca mata cokelat lagi (berasa di film-film Thailand), hahaha di Indo ga ada tu sopir kayak begitu, kita dianter sampai samping hotel, biaya taxi habis 56 baht karena minimal argonya 35baht, dari situ dibantuin sama satpam nyeberang rel kereta batu bara yang keretanya berhenti pas lampu merah (kaget aku) lalu menuju lobi dan kita check in, hotelnya kelihatan bagus dan harganya pun murah, Yaya begitu senang, tapi ternyata harus kasih deposit 1000baht dan air panas (untuk bikin pop mie dan kopi) serta wifi ga gratis, wifi dan air panas per hari harus bayar masing-masing 140 baht. Tapi ada satu hal yang membuat kita bersyukur dan merasa disayang Allah banget, ternyata di Nasa Vegas Hotel ini, baru bisa check in jam 15.00 dan kita pas sampai sini jam 15.30, coba tadi kita ke sini dulu baru ke Chatuchak, belum bisa check in kita…


Pemandangan di st Ramkhanghaeng, st terdekat dari Nasa Vegas Hotel

Kita diantar porter sampai kamar no 939 (lantai 9 no 39) dan kita kasih tips 20baht dan baru tau kalau uang segitu tu kecil banget, buat beli tiket kereta aja nggak cukup, malu banget kalo inget kejadian ini, mana pas ketemu mas-masnya di bawah doi nanya “hi…where re you going?” rasanya pengen malingin muka aja, malu :D…
Kamarnya lumayan, bed nya gede, ada tv, ac, dan yang terpenting ada bath up nya sehingga bisa berendam air panas setiap saat supaya ngilangin capek (kata Yaya saking seringnya aku berendam, udah kayak putri duyung aja), habis air panasnya melimpah dan kran air kenceng, enak banget deh pokonya, kamar mandinya buat jemur baju juga enak banget, jendelanya terbuka sama udara luar yg agak panas membuat baju cepet kering. Tanpa istirahat panjang aku sama Yaya langsung cabut ke MBK, semacam ITC atau Thamrin City yg jual oleh-oleh, aku beli Tae Kae Noi yang ukuran big zip, 70 baht (ga ditawar, nyesel…huhuhuuu…jadi ingat Yaya juga nyesel pas belanja tas di Chatuchak ga ditawar dan rugi sekitar 50 baht). Pas kita masuk dan nanya ke satpam, satpam langsung kasih tau klo ada ruang sholat untuk moslem /berkerudung seperti kita di lantai 5 untuk wanita, lantai 6 untuk pria. Kita makan di lantai 6-food court, Yaya beli Tom Yam dan aku beli nasi goreng nanas seharga 120 baht. Yaya sempet sholat di lantai 5, dan dia ketawa dan takjub sama orang di pasar MBK yang ditanyain dia dimana musholla berada, dan orang itu selalu nunjukin dimana toilet, trus Yaya bilang “I’m moslem, and where is prayer room?” Akhirnya orang dari toko lain yang jawab, ahhaha.


Nasi Goreng Rumah Spongebob, ditemani Tae Kae Noi big zip khas Thai

Ga dapet oleh-oleh di MBK, setelah itu kita pergi Asiatique The Riverfront, kita di Thailand ini kemana-mana naeknya kereta (BTS airport yg city line) jadi lama-lama hapal sama nama-nama setani di sini, jadi inget film ATM AK Error, kan ada adegan pas kereta berhenti, pemandangannya mirip kayak di BTS ini, hahaha. Kita turun di Saphan Taksin trus keluar lewat pintu exit 2 dan naik river boat gratis menuju ke Asiatique The Riverfront, dari jauh pemandangan udah bagus banget, ada dermolen, lampu-lampu, dan pemandangan gedung yang indah, angin di kapal ini juga kenceng banget, ada kapal pesiar dengan lampu warna warni yang hilir mudik, kata Yaya harusnya tadi kita makan malam di atas kapal itu, berasa pasangan aja ya, pasti romantis kayak di film-film, hihihii. Di Asiatique kita foto-foto, lalu menuju ke pasar di dalamnya, beli oleh-oleh, aku beli Nestle Nes Tea, Thai Tea Mix, Milk Tea sama Green Tea (saking sukanya teh Thailand)…trus sebelum pulang kita mampir pula beli thai tea di jalan pulang dan itu seger banget…saking banyaknya kita jalan, pas pulang tu perjalanan berasa kaki mau patah…capek banget…mana sebelum ke hotel mesti ke mini market seberang hotel buat beli minum, aku mau bayar salah ambil uang, beli air mineral mau bayar pakai USD trus mas-mas kasirnya bilang “no no ….you can use Baht” dan pas aku megang uang Baht dia langsung nyaut “yes, that’s right” dan Yaya langsung nyuruh aku misahin uang per mata uang di dompet.


naik river boat gratis menuju ke Asiatique The Riverfront


sayangnya nggak sempet naik dream island/ dermolen


rame juga ya suasananya...

Setelah sampai hotel, akhirnya aku berendam air hangat, rasanya menyejukkan dan menentramkan hati, tidur pun menjadi nyenyak…
Paginya kita beli sarapan di bawah stasiun Ramkhamhaeng, nasi telur dan oseng ayam jagung 40 Baht, kita makan di bangku-bangku dekat situ yang ternyata tempat tunggu bagi penumpang kereta batu bara yang lewat, liatin anak sekolah di Thailand jadi inget film Crazy Little Thing Called Love, seragam baju warna putih, rok biru donker, sepatu pantovel, tas jinjing kulit hitam kotak, dan rambut diikat ekor kuda pake pita lebar warna biru donker :D… menuju ke sungai Chao Praya naik river boat menuju ke Wat Arun Temple, cuman agak kesel karena salah paket, harusnya yg sekali jalan cuman 40 Baht tapi kita belinya yang trip 150 baht dan nggak bisa di refund, Yaya sempet kesel tu…tapi di river boat itu aku ketemu orang Indo, cewek berkerudung, begitu tau klo sama-sama dari Indo dia langsung memelukku, hahaa, berasa saudara kali ya. Sampai di Wat Arun kita foto-foto eh tiba-tiba gerimis, trus candi utama juga lagi di pugar, hmm…kurang beruntung sepertinya, tapi pemandangan di sini bagus dan candi nya tu khas banget ukirannya.


Foto pertama di Wat Arun


Bangunan yg khas banget


Ukiran Khas Wat Arun


Detail Ukiran terlihat jelas


Banyak patung Buddha


sayangnya candi masih dlm proses pemugaran


Pemandangan di dalam Wihara

Pas sebelum keluar dari Wat Arun, aku beli Iced Thai Tea lagi, saking demennya sampe kembung minum es teh…setelah itu kita nyeberang sungai Chao Praya bayar 3 Baht ke seberang buat jalan kaki ke Wat Pho, di sana langit mulai mendung dan hujan deras, untung bawa payung, tiket masuk 100baht dan kita bisa lihat patung Buddha raksasa yang sedang berbaring, sebelum itu kita harus lepas sepatu dan ada orang bule yang pake baju terbuka disuruh pakai rangkepan, bener-bener harus berpenampilan sopan saat menghadap dan masuk ke tempat ibadah ini, pas sebelum pintu keluar kita maen dakon pakai recehan uang Baht tapi kurang tau juga maknanya apa, pas di pintu keluar ketemu orang Indonesia dari Temanggung, sempet ngobrol-ngobrol panjang sebelum akhirnya aku dan Yaya pergi ke arah Grand Palace.




Foto Buddha tidur diambil dari celah jendela

Kita jalan jauh banget dan hari sudah mulai sore, lewatin pusat kota Thailand yang banyak foto2 besar di pajang, siapa ya kira-kira? Tapi kita ga sempat masuk Grand Palace karena ternyata tutup jam 15.30, tiketnya pun mahal banget sekitar 500 baht. Akhirnya kita istirahat di lapangan samping Grand Palace, aku menemukan banyak tupai dan burung di alun-alun Sanam Luang, lalu kita melanjutkan perjalanan menuju Khao San Road lewat jalan tikus…

Jeprat jepret di sepanjang jalan 1

Jeprat Jepret di sepanjang jalan 2

Sampai di Khao San Road, hal yang pertama kita cari adalah toilet dan masjid, sampai muter-muter…akhirnya nemu toilet di sebelah kantor polisi dan nemu masjid di jalan Cakrabhongse yang notabene orang sekitar nggak tau mosque, tapi taunya “masijid” karena tertulis dengan jelas di pinggir jalan “ Masjid Cakrabhongse”.


Plang legendaris "Masijid Chakrabongse"

Kita istirahat di Masjid Chakrabongse sampai jam sholat magrib, ternyata ada juga ya orang Thailand yang beragama moslem, aku disapa sama seorang ibu-ibu yang habis melaksanakan sholat magrib, dia bilang anaknya juga kuliah di Jogja, cuman lupa nama universitasnya apa, dari bahasanya sih kayaknya tu ibu dari Malaysia. Baru ngeh…air putih sulingan yang aku ambil dari masjid Cakrabhongse ternyata seger banget, dingin lagi.

Suasana Khaosan Road

Habis itu kita jalan lagi kearah Khaosan Road, pengen rasanya makan mie, di tasku dari kemarin udah bawa Pop Mie 2 bungkus tapi kok nggak kemakan-makan, bingung juga nyari air panas di mana, tau gitu nggak usah bawa Pop Mie, Yaya juga pas di Malay kemarin beli semacam Pop Mie nya Malay di Sevel enak dan murah kok, nah pas lewat perempatan, ada penjual Thai Seafood yang penjualnya cukup ramah dan attractive dari membujuk kalau enak, halal sampai bisa mempengaruhi aku sama Yaya hingga ingin membeli, akhirnya kita beli Seafood Thaisalad, isinya campur-campur dari mie instant, sayur, seafood, rasanya agak asem-asem gitu tapi enak, mantap trus Yaya beli jambu di gerobak pinggir jalan, cuman 20 Baht/ Rp 8.000 tapi dapetnya jambu Bangkok/ Kristal yang di Indo itu adanya di supermarket-supermarket gitu, di sini buah-buahan memang serba kualitas super dan murah, habis itu kita rencana menuju ke pangkalan bis tapi nyangkut di pinggir jalan karena ada yang jual kalajengking, kecoa, belatung goreng seperti yang aku lihat di acaranya Edo Zhell hahaha, akhirnya nemu juga, kecoa di sini gede-gede banget loh, bisa 3 sampai 5 kali nya kecoa di Indo, serem liatnya…dan lebih serem lagi liatin bule dan orang Jepang/ Korea yang berani memakannya…aku si cuman berani foto doang, lagian haram juga.
Di kiri jalan ada street food yang jual Pad Thai (semacam kuetiaw goreng ada taugenya, cuman lebih kenyal dari kuetiaw, enak), akhirnya aku mampir sama Yaya pesen Pad Thai sepiring berdua, kita duduk di kursi dan meja outdoor gitu, assistant yg tukang masak alias semacam waiter gitu mas-mas yg Thailand banget lah logat sama muka-mukanya, nah di meja seberang, sekitar jam 4 sore dari tempat duduk ku, ada oppa-oppa 2 orang lagi makan Pad Thai juga, itu mirip banget sama yang ada di film-film korea, model rambut bentuk tubuh warna kulit sipit-sipitnya tu mirip banget sama oppa aku jadi nengok ke belakang terus, pernah sekali aku lagi nengok, itu oppa juga liat ke arahku, argggghh…malu banget rasanya dan aku teriak-teriak nggak jelas, seketika mas-mas waiter nyamperin dan bilang “are you okay?” langsung kujawab “I’m fine, thank you” (nggak pake tambahan “…love you” lho ya, *emangnya filem :p) hahaha makin malu lah aku, ada satu sisi itu mas waiter perhatian juga ya :D

Suasana street food yang jual Pad Thai, terlihat oppa dan di belakang ada waiter

Pad Thai, sepiring berdua

Di perjalanan pulang menuju pangkalan bis yang sempet kita lewati pas jalan kaki kearah Khaosan Road tadi aku liat di kanan kiri jalan, tepatnya di depan restoran jedak jeduk itu ada waria-waria yang sungguh cantik jelita tak terkira, bener ya kata orang-orang, hehe…dan setelah masuk gang, ternyata jalan yang kita pake berangkat tadi udah di tutup, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30…kita balik lagi lah kearah Khaosan Road dan suasana sudah mulai berbeda, banyak musik jedak jeduk sudah terdengar, kelihatannya dunia malam di sini sudah dimulai, aku kebingungan sama Yaya, mana hp nya Yaya habis baterai, powerbank juga udah habis (Yaya beli paket internet international yang notabene sangat berfungsi buat nyari info baik transportasi maupun arah, aku juga sebenernya udah download peta off line tapi ternyata suka error “gps tidak akurat”) huhu…akhirnya di pinggir jalan ada polisi yang sedang markir motor, kita nanya lah sama polisi itu, cuman keterangan yang dikasih malah membingungkan, kita disuruh kearah barat trus belok kanan, perasaan tadi kita dateng dari kiri dan arah selatan, sebenernya polisi itu baik, pas kita lagi foto di bawah papan nama jalan, itu polisi lagi ngendarain motor dan pas lewat di depan kita doi nunjukin lagi tu arahnya, tapi kita masih kurang yakin.

di sini disamperin bapak polisi tadi

Akhirnya kita pergi ngikutin kata hati kita, dan setelah jalan sekitar 1km, ketemulah di sebuah halte bis dan syukurlah ada bis no 59, dengan membayar sebesar 13 Baht dan dengan insiden kebablasan karena gps map ku kurang akurat, akhirnya kita turun di stasiun Sanam Pao, kita balik kearah Phaya Thai lewatin setani Victory Monument dan akhirnya bisa pulang ke hotel…kali ini aku ke minimarket sendiri buat beli air mineral karena Yaya sudah tepar…hehe...seperti biasa malam-malam aku berendam air hangat di bathup dan keluar kamar mandi Yaya sudah tertidur, aku bangunin buat sholat isya nggak bangun-bangun.
Pagi-pagi saat aku bangun, aku lihat tas Yaya udah rapi, oleh-oleh juga udah pada ditata, ternyata semalam pas aku tidur dia terbangun, sholat dan packing, omg…akhirnya aku sholat subuh dulu dan lanjut packing, tetep mandinya pake acara berendam dulu, hehee….kita check out dari hotel sekitar pukul 9.30 lanjut ke stasiun Ramkhanghaeng, di perjalanan rasanya agak sedih mau ninggalin Bangkok, banyak kenangan di sini..hehee..jadi aku selfie dulu deh di skybridge yang menghubungkan hotel Nasa Vegas dengan stasiun, hal yang aku sesalkan saat pergi vacation ini adalah aku nggak bawa koper, bawanya tas jinjing dan itu menyiksa banget, beratnya luar biasa, klo diangkat lama-lama badan jadi hilang rasa, pusing dan keringat bercucuran, akhirnya aku seret-seret aja itu tas macam koper, biarlah orang liat berkata apa, huhu…


selfie di skybridge 1


selfie di skybridge 2


pemandangan dari Skybridge


kerempongan sama bawaan
"hidup masing-masing yah Ya" 🤣

Kita pergi dulu ke bandara Suvarnabhumi lalu dari sana naik shuttle bis free ke bandara Don Mueang, tangan kita di cap bintang biru sama petugas! Aku udah mulai nggak napsu makan…sedih mau ninggalin Thailand…kita melewati jalan tol dan jalan layang, udah mirip Jakarta sih sebenernya, kita dapat terminal 21, paling ujung, terus jauh banget, untung ada stroller…di terminal itu kita nunggu karena pesawatnya aja belum datang, dan syukurlah ada dispenser gratis jadi bisa bikin pop mie, tapi airnya kecil banget minta ampun, jadi orang-orang yg antri di belakangku tu kebanyakan orang China pada ngedumel dan ngajak ngobrol aku, sayangnya aku nggak ngerti mereka ngomong apa jadi aku cuman senyum, hoho…begitulah reaksiku di manapun berada klo diajak ngobrol sama orang dari antah berantah dan nggak ngerti bahasanya…jawab dengan senyuman…Yaya masih sempet ngecharge hp lalu tidur, pas banget pesawat baru datang, tapi masih nurunin penumpang dulu jd belum aku bangunin, jadwal pesawat agak delay sekitar 15 menit akhirnya para penumpang diperbolehkan masuk dan pesawat baru lepas landas jam 13.40.
Pesawat menuju Changi Airport sungguh sepi, depan ku malah kosong mlompong, akhirnya aku pindah ke kursi depan biar bisa dekat jendela, aku lihat Yaya udah posisi tidur aja menguasai 3 kursi, memang boleh ya? Hehee…di tengah perjalanan aku dibangunkan pramugara, suruh isi data imigrasi Singapore yang notabene lebih banyak pertanyaan dan lebih ketat.


Jalan-jalan di Singapore🇸🇬

Sekitar pukul 16.40 akhirnya aku dan Yaya sampai di bandara Changi, dapet kursi di depan jadi bisa keluar paling awal, tapi setelah masuk bandara, kita langsung cari air minum gratis, yang kayak wastafel itu, airnya seger banget….bandaranya rapi, imigrasinya nggak antri, cuman foto wajah aja nggak pake sidik jari kayak di Malay, wah negara maju gitu loh, hahaa….sepanjang di Singapore ini rasanya udah berpuluh-puluh kali bergumam “Negara maju” sampai Yaya trauma dengernya kali, mirip kayak Rani yang dulu trauma gara-gara pas di Jakarta aku selalu ngomong “jantung ibu kota” :D
Di Changi kita naik monorail/ sky train menuju ke city train, sempet dibawa bolak balik sama kereta karena nggak tau mau turun mana, buka google dulu (paketan Yaya sangat membantu ya) trus kita turun di terminal 2, akhirnya bisa naik city train, di sini harga transportasi lumayan mahal sekitar SGD1.5-4, Thai juga mahal sekitar THB13-45 itu tiap satu jalur (klo transit bayar lagi, dipukul rata sama jarak, klo banyak lewat stasiun ya makin mahal), yg murah cuman Malay (ada bus free).
Di stasiun Chinatown kita agak bingung mau keluar lewat mana, akhirnya aku nanya petugas untuk kearah Pagoda Street, tempat hotel berada, hmmm…ternyata…walaupun operator pengumuman di stasiun pake 4 bahasa (Inggris, Melayu, China, Spore*baru tahu bahasa asli Spore kayak China gitu lho) tapi begitu aku ngobrol sama orang Spore pake bahasa Inggris, mereka klo ngomong cepet banget, lebih gampang nangkep orang Thailand malah, hoho….tapi aku mudeng juga sih cuman lama aja loadingnya, hehee….akhirnya kita keluar di Pagoda Street, dan begitu keluar tu rasanya kayak keluar dari goa, rame banget di Pagoda Street tu, banyak toko oleh-oleh dan kayak pasar gitu…dan aku nengok kanan dikit udah ada tulisan 5footway Inn Project Chinatown, ternyata hostel nya super duper deket sama stasiun (tadinya ngiranya sekitar 500 meter dari stasiun), kita langsung masuk dan check in, terperangah juga sih sama petugasnya yang ngomong Inggrisnya nerocos kayak city trainnya Spore (100km/jam) dan kata-kata nya agak patah-patah (ngomong breakfast aja bre’fes, over here : ovehi) gitu aku sama Yaya cuman mengangah aja saling tengok dan geleng-geleng tanda nggak ngerti, hahaa…kita sempet khawatir karena pas pesen kamar terpisah (aku yg mesenin sih lewat traveloka, pas pesen aku sama Yaya terpisah, takutnya kamarnya nggak bareng, tapi si petugas bilang “don’t worry, I’ll take you in same room” syukurlah….pas nyampe kamar, ternyata kamarnya kecil ada 2 bed tingkat yang totalnya cukup untuk 4 orang, ada ACnya sih, nyaman…tapi satu hal kekurangannya adalah nggak ada space buat sholat, super sempit karena kita bisa sholat mepet pintu, kalau pintu dibuka bisa ketabrak. Di bed yg satunya sepertinya sudah ada orangnya soalnya kita lihat ada topi di kasur sama ada charger nempel di colokan, hmm di Spore ini colokannya sama kayak di Malay, lubang tiga, sedangkan di Thai colokannya sama kayak Indo, lubang dua, jam magribnya pun Spore juga sama kayak Malay, Thai lagi-lagi mirip Indo…


Suasana Chinatown Singapore setelah keluar dari goa (stasiun)
di deretan kanan ada lampu yg nempel di tembok itu
bertulis 5footway Inn Project Chinatown
alias hostel tempat kita nginap


Setelah kita taruh barang-barang kita yang super berat, sholat dan begitu nyambung wifi (akhirnya dapet wifi) aku telp Cez, banyak banget notif di hp, lalu kita pergi ke Merlion Park yang tepatnya deket sama Raffles Place, kayak nggak asing gitu di telinga, setelah keluar stasiun Raffles Place, aku liat ada nama jalan Six Battery Road, lebih nggak asing lagi namanya…hmmm…dan ternyata pas aku pergi ke sini untuk kedua kalinya baru sadar, kalau dulu jaman aku kerja di bank, di bagian remittance/international clearing sering ngirim duit ke sini, terutama mata uang SGD, stasiunnya tepat di bawah gedung bank UOB Singapore/ UOVBSGSG yang notabene adalah bank koresponden untuk mata uang SGD.
Keluar dari gedung kita langsung lihat semacam sungai yang lebar dan bersih beserta perahu dengan lampu warna warni yang hilir mudik, ada gedung-gedung mengelilinginya, ada pula jembatan dengan lampu warna warni kita nanya seorang cewek kayak orang jepang gitu, “where is Merlion Statue?” dia nunjuk kearah pinggiran sungai, jadi kita menelusuri pinggiran sungai dan ketemulah jalan raya, kita menyeberang jalan itu, masuk ke semacam park/taman dengan menuruni tangga dan akhirnya kita lihat kayak danau gitu, di ujung kita lihat patung duyung singa warna putih (soalnya nggak ada kakinya) dan ada air mancur menyembur dari mulutnya, patung yang sering aku lihat di foto-foto dan merupakan icon dari Negara Singapore.


Menyusuri Sungai, di belakang ada jembatan penuh dengan lampu warna warni


Pemandangan malam di sini begitu bagus apalagi di seberang danau itu ada bangunan 3 gedung setinggi 57 lantai yang dihubungkan dengan semacam skypark berbentuk kapal di atasnya, keren abis arsitekturnya, bangunan itu bernama Marina Sands By Tower, pengen rasanya naik sana…di sinilah pertama aku update foto di path dan ada yang komen, Karin temen sekelas sama Dar/ temen kantornya Rani, katanya kalau mau naek ke sana dan murah, main aja ke restaurant Ce La Vi dan beli soft drink atau minuman ringan gitu, bang Jose juga comment dan bilang kalau mau naek ke sana arround SGD30 (tergolong mahal kalau cuman buat naik aja).

Pemandangan malam di Merlion Park



Terlihat Marina Sands By Tower di belakang


Patung duyung Singa di malam hari


Tanpa berlama-lama setelah foto-foto kita memutuskan untuk pergi ke Orchard Road, masih nggak ngerti sih di sana ada apa, yang penting ke sana dulu, agak buru-buru takut kemaleman dan nggak dapet kereta, sampai di Orchard Road yang kita lihat sepanjang jalan cuman mall-mall gitu, semacam Bukit Bintang kalau di KL, dan aku foto di patung warna warni kayak yang dibilang Kak Ell.

Orchard Road


Habis tu kita pulang ke hostel, sampai hostel kita (pake computer umum di deket receptionist buat chek in online pesawat Lion Air yang nggak bisa-bisa), akhirnya kita pergi ke lantai 2, ke pantry dan seneng banget aku, karena ada air panas buat bikin pop mie sepuasnya, ada juga mesin milo, cappuchino dll, kayak pantry di kantor dulu, aku sama Yaya nongkrong di sana sambil makan pop mie dan minum teh tarik, sambil aku upload foto dan check in, begadang nih, ada wifi gratis sih…hoho…habis tu aku naik ke kamar dan udah ada 2 cewek temen kamarku yang sudah tidur, dilihat dari bahasanya kayaknya mereka orang China, lalu aku sholat dan mandi (aku selalu mandi dulu sebelum tidur, soalnya menurutku, salah satu cara jitu untuk merileks kan badan dan menghilangkan lelah adalah mandi). Habis itu aku tidur di bed atas dan Yaya di bawah (kasurnya mengingatkanku sama kasur di asrama TN dulu)….
Jam 5 pagi jam weaker hp ku bunyi, masih ngantuk…tapi aku kuatkan tubuh ini untuk mandi dan sholat, Yaya masih tidur akhirnya setelah itu aku tidur lagi, dibangunin Yaya sekitar jam 7, tapi badan masih capek dan ngantuk, aku bilang “10 menit lagi yah ya” dan akhirnya setelah 10 menit aku dibangunin Yaya, lalu aku packing dan titip tas di receptionist. Pagi itu agenda kita pergi menjelajah Sentosa Island, kita turun di stasiun Harbour Front, sambung naik sky train/ semacam monorel nyeberang laut (lautnya bersih banget, nggak kayak di priok) dengan tariff SGD4 (untuk muter-muter Sentosa pulang pergi), di sini toiletnya nggak ada air mancurnya, huhuhu…
Kita turun di Universal Studio, masih pagi banget di sini, matahari juga masih redup, masih sepi juga, akhirnya kita foto-foto dengan background yang globe berputar bertuliskan UNIVERSAL, bagus, nggak bocor, tapi agak gelap.


nggak bocor, tapi gelap karena kepagian hehe


Habis itu kita duduk-duduk di kursi taman deket Candy World, ada banyak permen lolipop bergelantungan, Yaya seneng banget foto di sana, nah tiba-tiba ada bapak-bapak ngajak ngobrol “di Indonesia sekarang sedang hari kemerdekaan ya? Selamat ya” hahaa wah baik banget…ternyata itu bapak dari Malaysia, dia bilang kalo di Malay juga mau hari kemerdekaan, cuman di akhir bulan Agustus.

banyak permen bergelantungan


Habis itu kita naek sky train lagi ke station … di sana ada patung singa mirip Merlion dan tulisan Sentosa, kita foto-foto di sana trus balik (sebenernya belum puas jelajahin Sentosa Island, hoho).



Sentosa


Lalu kita menuju Merlion Park lagi (pengen foto dengan pemandangan siangnya), tepat jam 12 siang sampai sana, panas bangetttt….di sana kita foto-foto, banyak juga orang Indonesia di sini, kedengeran dari logatnya.


ini pemandangan versi siang



jam 12 teng, lagi panas-panasnya


trus kita pergi ke Marina Bay Sands, ke Ce La Vi seperti saran dari Dar, tadinya mau naek bis ke sana tapi setelah tanya orang, rutenya jlimet.

di dalam gedung Marina Sands Bay Tower, mau nyari lift ke Ce La Vi


Akhirnya kita ke stasiun, dan di tengah perjalanan ada yang jual One Dollar Ice Cream, aku sama Yaya makan ice cream di pinggir jalan ditemani sama burung-burung. Yaya pengennya pakai roti tapi penjualnya udah keburu taruh wafer jadi udah nggak bisa dituker lagi.
Setelah sampai di stasiun…kita menuju ke Ce La Vi yaitu di lantai 57, pemandangan dari atas bagus banget, akhirnya bisa menginjakkan kaki di kapal yg di atas gedung, hahaha….kita bisa lihat Merlion Park dari jauh beserta kota Singapore yang banyak gedung nya, trus di bawah kita ada danau…kita duduk di kursi di bawah payung-payung merah, pesen juice jeruk sama juice mangga masing-masing SGD10, ya lebih murah lah dibanding naik resmi yang seharga SGD30. Untuk hal ini aku berterimakasih banget sama Dar.

Pemandangan dari Ce La Vi


patung duyung Singa keliatan kecil dari sini


kasih salam buat adik dari Ce La Vi



Arround SGD 10/ person, lebih murah daripada tiket biasa yg naek ke tower


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, lalu kita turun menuju ke Garden Bay, semacam taman bunga yang ada tower-tower tinggi berbentuk mirip payung berwarna merah. Kita jalan sampai deket semacam kolam besar, foto-foto lalu buru-buru ke Chinatown karena belum beli oleh-oleh dan belum check in online untuk Lion Air.


Garden Bay



kayak payung ya



Marina Sands Bay Tower dari Garden Bay
inget bapak2 di belakang Ya?

menu lunch di Spore

Sampai di hostel kita sholat lalu pergi berburu oleh-oleh, banyak promo di sini, dan promo nya cuman di jam-jam tertentu aja, contohnya kayak gantungan kunci, SGD100 dapet 42 buah dari jam 12 siang sampai 6 sore aja, trus kaos dari jam 6 sore sampai malam dsb, aku dan Yaya beli oleh-oleh banyak…padahal tas kita udah berat banget, hehe…
Sekitar jam 5 sore kita cabut ke bandara Changi, sedih rasanya liburan sudah berakhir…kangen sama ketiga Negara itu…besok-besok pengen ke sana lagi…